Road to Univ.

Januari merupakan bulan awal yang penuh dengan ketidakpastian. Penyebabnya ada beberapa yakni:

1. Format UNBK beda
2. Ada USBN
3. Aku ngga ikut bimbel

Setidaknya Un, usbn, usek, uprak bukan hal yg aku khawatir kan. Setidaknya aku siap mental untuk menghadapi jadwal padat itu.

Meski nilai rapot rasa2 pahit manis, keinginan untuk lulus snmptn sangatlah besar.
Mulai awal januari aku mulai mikir buat ikut bimbel apa ngga, asli rada pusing.

7 januari, masih bingung les apa engga.
8 januari, mencoba memantapkan hati dengan pilihan universitas Indonesia, fakultas bisnis islam.
8 januari, berubah pikiran dan mengesampingkan ego dengan memilih UNAIR.
14 januari, kesempatan untuk bisa mengikuti snmptn adalah 1% karena kuota snmptn buat sekolah akreditasi A hanya 50% dari yg terbaik di sekolah.
Sungguh berita yang lumayan menyakitkan, meski begitu tak masalah perjuanganku masih akan terus berlanjut.

Jazaakallahu khairan katsiraa.

Re

Merasa paling kaya?
Paling hebat?
Paling kuat?
Paling berkuasa?

Pas Allah kasih cobaan bilangnya,
“Ya Allah cobaan apa ini?”

Om sadar om.

Jazaakallahu khairan katsiraa.

Hati-hati pakai vixion di jalanan basah.

Ban NVL-ku IRC kena jalan basah sedikit bahaya sekali rek, udah sering kali kepeleset pas tikungan, itu juga biasanya ban belakang yang emang resek, tapi alhamdulillah ga pernah jatuh gara2 kepeleset.

Jadi kalo aku nyetir pas jalanan basah, santai wae, pelan-pelan asal kelakon. Belajar dari kesalahan biar ga jadi kecelakaan. Meskipun udah kepreset lebih dari 5x, syukur masih aman.

Jazaakallahu khairan katsiraa.

Perubahan SNMPTN

Mereka yang berhak mendaftarkan diri sebagai peserta SNMPTN adalah siswa SMA/SMK/MA/MAK negeri maupun swasta yang:

1. memiliki prestasi unggul yaitu: calon peserta masuk peringkat terbaik di sekolah pada semester tiga, semester empat dan semester lima, dengan ketentuan berdasarkan akreditasi sekolah sebagai berikut:
akreditasi A, 75% terbaik di sekolahnya;
akreditasi B, 50% terbaik di sekolahnya;
akreditasi C, 20% terbaik di sekolahnya;
akreditasi lainnya, 10% terbaik di sekolahnya.

2. akan lulus dari satuan pendidikan yang diikutinya.

3. memiliki NISN dan terdaftar pada PDSS, untuk cek NISN bisa di cek diĀ Website NISN.

4. memiliki nilai rapor semester 1 sampai semester 5 (bagi siswa SMA/MA, SMK/MAK Tiga Tahun) atau nilai rapor semester 1 sampai semester 7 (bagi SMK/MAK Empat Tahun) yang telah diisikan pada PDSS

5. memenuhi persyaratan lain yang ditentukan oleh masing-masing PTN (dapat dilihat pada laman PTN bersangkutan).

2017
Persyaratan Siswa Pendaftar SNMPTN
Siswa SMA/SMK/MA atau sederajat (termasuk SRI di luar negeri) kelas terakhir pada tahun 2017 yang memenuhi persyaratan sebagai berikut.

Memiliki prestasi unggul yaitu calon peserta masuk peringkat terbaik di sekolah, dengan ketentuan berdasarkan akreditasi sekolah sebagai berikut:
akreditasi A, 50% terbaik di sekolahnya;
akreditasi B, 30% terbaik di sekolahnya;
akreditasi C, 10% terbaik di sekolahnya;
belum terakreditasi, 5% terbaik di sekolahnya.
Pemeringkatan dilakukan oleh Panitia Pusat.

Memiliki NISN dan terdaftar pada PDSS,
Memiliki nilai rapor semester 1 sampai semester 5 (bagi siswa SMA/SMK/MA atau sederajat tiga tahun) atau nilai rapor semester 1 sampai semester 7 (bagi SMK empat tahun) yang telah diisikan pada PDSS.
Memenuhi persyaratan lain yang ditentukan oleh masing-masing PTN (dapat dilihat pada laman PTN bersangkutan).

Jazaakallahu khairan katsiraa.

Antisipasi Hoax

Jangan langsung percaya terhadap apapun, jangan langsung menghakimi. Jadilah orang yang dapat bersikap bijak, periksa dulu dan cek kebenarannya, keakuratannya dan kepastiannya.

Hilangkan sifat suka terprovokasi, suka saling menyalahkan satu sama lain meskipun tak tahu permasalahannya apa. Jangan mudah bicara ceplas-ceplos seperti gonggongan anjing yang hina, pikirlah dulu apa yang ingin disampaikan, karena auman singa menunjukkan wibawa sang raja.

Jazaakallahu khairan katsiraa.

Pemberdayaan dan Kebhinekaan

Kebhinekaan Sebagai Pemberdayaan Masyarakat

Kata Bhineka merupakan kata yang sangat familiar, tetapi terasa asing untuk didengar. Kata yang menjadi simbol ideologi sebuah bangsa yang kaya akan keragaman suku, bangsa, dan budaya. Dalam sejarah bangsa kita, Bhineka merupakan semboyan pemersatu bangsa, pilar dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus sebuah potensi dan ancaman, tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Dewasa ini persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara semakin pelik, tidak hanya menyangkut sosial dan ekonomi tetapi juga menyangkut integrasi nasional. Bercermin daripada hal tersebut, kita seakan diingatkan kembali kepada konsep dasar negara kita. Sebuah konsep dasar yang sangat sakral dan mengandung nilai-nilai dan falsafah negara. Banyak unsur yang terlibat dalam masalah kebhinekaan, meski begitu yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara mengurus kesejahteraan masyarakat melalui hal tersebut.

Banyak faktor yang menjadi pendorong dan penghambat kemajuan suatu negara, setidaknya bagi kita saat ini, masalah utamanya adalah integrasi nasional yang menyangkut kesejahteraan masyarakat. Telah banyak kebijakan yang dibuat demi kepentingan rakyat, akan tetapi sejatinya hanya rakyat tertentu saja yang bisa menikmati manfaat kebijakan tersebut. Tentunya pemerintah selalu berbenah dalam hal ini. Begitu banyak pro dan kontra tentang pemerintah, yang tentunya tidak akan menghasilkan suatu apapun jika masyarakat kita tidak pernah menjadi dewasa dan bijak menghadapi berbagai permasalahan.

Sungguh, dalam hati kecil kita yang paling dalam, kita ingin menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Sebelum itu, hendaknya kita bercermin terlebih dahulu, apakah kita pantas untuk menjadi negara maju dan bermartabat sedangkan kita masih sering terlarut dalam persoalan sepele dan konflik kepentingan yang tak bermanfaat sama sekali.

Kita belum bisa memanfaatkan kebhinekaan sama sekali, kita belum pantas berbangga diri terhadap keberagaman bangsa kita. Seharusnya keberagaman bisa menjadi senjata yang paling ampuh dalam mengarungi kehidupan bernegara. Tapi, apa jadinya jika kita yang menjunjung tinggi keberagaman justru mempersoalkan keberagaman itu sendiri. Kita masih belum sanggup bersikap menghargai satu sama lain, kita mudah bermusuhan hanya karena setetes kecil perbedaan.

Bagaimana dengan kondisi kesejahteraan masyarakat yang teracuhkan dengan segala kompleksitas keberagaman tersebut? Saya hanya bisa tersenyum. Sungguh saya punya bayangan bahwa negara ini bisa maju dengan semangat persatuan dan kebhinekaan. Kenyataannya sangat mengecewakan, masyarakat kita belum mampu menerima kemajemukan. Dapat dilihat sumber segala masalah adalah kemajemukan, berbeda jauh dengan pandangan saya semula.
Membangun kebhinekaan tidak bisa hanya dilakukan oleh satu orang, kita perlu memiliki satu komando besar yang mampu memimpin dan mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat. Kita perlu generasi penerus yang mampu menanggung beban berat masalah-masalah yang dibuat oleh pemimpin-pemimpin terdahulu.

Semangat kebhinekaan dapat kita jadikan sebagai gagasan membentuk generasi emas, generasi penerus dan generasi revolusioner. Kita harus fokus mengarahkan bagaimana generasi yang akan datang dapat menggantikan posisi kita saat ini. Kita tidak boleh hanya mementingkan ego sesaat, baik itu pemegang kekuasaan ataupun yang lain. Sekarang adalah pentas di mana generasi yang akan datang tercipta, ibarat saat ini kita menanam benih, apakah benih itu akan kita rawat dengan baik atau akan kita tinggalkan begitu saja, semuanya ada di tangan kita.

Saya yakin dalam waktu dekat akan tercipta generasi intan mutiara yang melebihi emas perak, generasi yang dapat membawa burung garuda terbang tinggi di atas cakrawala, mengepakkan sayap menembus batas dunia. Saya ingin melihat dalam beberapa puluh tahun kedepan, merah putih dapat bersinar di atas panggung dunia, menyapa berbagai kekuatan besar dengan kedudukan sejajar dan terhormat. Semuanya dimulai dari sekarang.

Referensi: –

Jazaakallahu khairan katsiraa.